Pemulihan pertanian Aceh menghadapi pekerjaan besar pada lahan dengan kerusakan berat. Data Pemerintah Aceh menyebut 57.485 hektare sawah terdampak bencana hidrometeorologi: 27.437 hektare rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, dan sekitar 120 hektare hilang.

Pemerintah Aceh menyatakan 16.276 hektare sawah rusak berat masih membutuhkan penanganan. Gubernur Muzakir Manaf telah meminta percepatan dan koordinasi dengan Kementerian Pertanian serta ATR/BPN.

Rp2,5 triliun harus dibaca sampai ke tingkat lahan

Dukungan Kementerian Pertanian untuk pemulihan sektor pertanian Aceh sebelumnya disebut mencapai sekitar Rp2,5 triliun. Besarnya angka anggaran belum dengan sendirinya menjelaskan berapa hektare rusak berat yang dapat direhabilitasi, kapan pekerjaan dimulai, dan kapan petani bisa kembali menanam.

Karena itu, indikator pemulihan perlu bergerak dari nilai program menuju unit yang dapat diuji: hektare lahan, lokasi, jenis kerusakan, biaya per hektare, status pekerjaan, jadwal tanam kembali dan jumlah rumah tangga petani yang kembali memperoleh pendapatan.

Kerusakan berat adalah bottleneck berikutnya

Lahan rusak ringan dan sedang relatif lebih cepat dipulihkan dibanding lahan yang membutuhkan rehabilitasi berat. Pada kategori terakhir, persoalan dapat melibatkan sedimentasi, perubahan struktur lahan, jaringan irigasi, akses alat berat dan kepastian status bidang.

Atlas akan menempatkan 16.276 hektare sebagai salah satu baseline Recovery Tracker pertanian. Pertanyaan kuncinya bukan hanya berapa anggaran tersedia, tetapi seberapa cepat anggaran berubah menjadi lahan produktif dan pendapatan petani.