Pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang mulai menyentuh fasilitas dasar di tingkat permukiman. Sebanyak 63 unit lampu penerangan jalan tenaga surya disalurkan ke sejumlah desa, dengan data lokasi yang diterima Atlas merinci penerima di Kecamatan Rantau dan Kecamatan Karang Baru.

Bantuan tersebut merupakan aspirasi Anggota DPRA Daerah Pemilihan Aceh 7, Muhammad Rizky, yang direalisasikan melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh. Pemasangan diarahkan terutama pada titik yang membutuhkan pemulihan penerangan setelah banjir merusak fasilitas di lingkungan permukiman warga.

55 dari 63 unit telah dirinci lokasinya

Data lokasi yang diterima Atlas merinci 55 dari total 63 unit. Sebanyak 26 unit tersebar pada 10 gampong di Kecamatan Rantau dan 29 unit pada 12 lokasi di Kecamatan Karang Baru. Rincian lokasi delapan unit lainnya belum tersedia dalam data yang diterima Atlas.

Di Kecamatan Rantau, distribusi yang tercatat meliputi Jamur Jelatang 5 unit, Jamur Labu 3 unit, Ingin Jaya 3 unit, Alur Cucur 3 unit, Suka Rakyat 2 unit, Suka Mulia 3 unit, Suka Jadi 1 unit, Suka Rahmat 1 unit, Alur Manis 4 unit dan Landuh 1 unit.

Di Kecamatan Karang Baru, data mencatat Paya Tampah 3 unit, Pahlawan 3 unit, Tupah 3 unit, Suka Jadi 4 unit, Kebun Tanah Terban Dusun Satelit 2 unit, Alur Baung 2 unit, Alur Selalas 3 unit, Banai 1 unit, Tanah Terban 1 unit, Tanjung Sementok 2 unit, Kampung Dalam 2 unit dan Selele 3 unit.

Penerangan sebagai bagian dari pemulihan

Kerusakan pascabencana tidak hanya menyangkut rumah, jalan atau infrastruktur berskala besar. Fasilitas yang digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, termasuk penerangan lingkungan, ikut menentukan seberapa cepat kehidupan warga dapat kembali berjalan normal.

Muhammad Rizky mengatakan pertimbangan tersebut menjadi salah satu dasar penempatan lampu di wilayah terdampak. Ia menyebut penerangan sebagai kebutuhan dasar masyarakat, terutama setelah bencana ketika sejumlah fasilitas permukiman mengalami kerusakan, sehingga bantuan didorong ditempatkan pada titik yang membutuhkan.

Menurut rilis yang diterima Atlas, sejumlah warga di lokasi pemasangan menyampaikan bahwa penerangan tersebut membantu titik yang sebelumnya mengalami gangguan atau kerusakan akibat banjir. Penggunaan tenaga surya juga membuat lampu memiliki sumber energi mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik konvensional.

Dari jumlah bantuan menuju dampak

Penyaluran 63 lampu merupakan satu intervensi pada tingkat lingkungan dalam kebutuhan pemulihan Aceh Tamiang yang lebih luas. Ukuran berikutnya adalah apakah pemasangannya benar-benar menjangkau titik yang kehilangan atau kekurangan penerangan, berapa masyarakat yang menerima manfaat dan bagaimana kondisi fasilitas tersebut setelah digunakan.

Muhammad Rizky mengatakan pemulihan pascabencana tidak semestinya hanya dilihat melalui pembangunan infrastruktur berskala besar. Menurut dia, fasilitas yang bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat juga membutuhkan perhatian dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait perlu dilanjutkan.

Dalam konteks recovery, keberhasilan program tidak hanya dapat dinilai dari berapa banyak fasilitas yang disalurkan, tetapi dari seberapa jauh fasilitas itu mengembalikan fungsi dasar yang sebelumnya hilang akibat bencana. Karena itu, data penerima, kondisi sebelum pemasangan dan manfaat setelah lampu beroperasi menjadi bagian penting untuk mengukur dampaknya.