Pemulihan rumah korban bencana Aceh kini dapat diukur dengan angka yang lebih konkret. Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh mencatat 649 unit hunian tetap telah selesai dibangun dari total kebutuhan 34.777 unit.
Data rekapitulasi yang bersumber dari BNPB dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman itu tercatat hingga 5 September 2026. Huntap yang telah rampung tersebar di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Timur dan Pidie Jaya.
Selesai 649, konstruksi 1.785
Dari 649 unit yang selesai, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkontribusi 440 unit, Kemenko Polkam 104 unit, BNPB 100 unit dan Kadin lima unit. Data yang sama juga menunjukkan 1.785 unit tambahan masih berada dalam proses pembangunan konstruksi.
Secara aritmetika, 649 unit yang selesai setara sekitar 1,87 persen dari kebutuhan 34.777 unit. Namun angka itu tidak boleh dibaca sebagai progres keseluruhan program hanya 1,87 persen, karena terdapat rumah yang sedang dibangun dan kemungkinan tahapan lain seperti verifikasi, perencanaan, pengadaan atau penyelesaian persoalan lahan.
Rumah sebagai ukuran recovery
Angka huntap membuat pemulihan lebih mudah diuji dari perspektif masyarakat. Bagi keluarga terdampak, recovery bukan sekadar nilai anggaran atau jumlah rapat koordinasi. Ia berarti kapan rumah aman tersedia, kapan keluarga dapat meninggalkan hunian sementara, dan kapan kehidupan sehari-hari kembali memiliki kepastian.
Aceh Utara mencatat penyelesaian terbanyak, yakni 351 unit. Perbedaan progres antardaerah perlu dibaca lebih lanjut: apakah dipengaruhi skala kerusakan, kesiapan lahan, sumber pendanaan, proses administrasi, kapasitas konstruksi atau faktor lainnya.
34.777 rumah perlu dipecah menjadi status yang dapat diperiksa
Untuk menilai kecepatan pemulihan secara adil, total kebutuhan huntap perlu dipetakan ke beberapa status: selesai, sedang dibangun, siap dibangun, terkendala lahan, menunggu pembiayaan, masih diverifikasi, atau belum memiliki kepastian pelaksanaan. Tanpa pemetaan itu, publik hanya melihat dua angka besar—kebutuhan dan selesai—tanpa mengetahui apa yang terjadi di antaranya.
Karena itu, 649 unit bukan hanya angka capaian. Ia adalah titik awal untuk mengukur apakah laju pembangunan berikutnya mampu mengejar kebutuhan puluhan ribu keluarga, dan apakah pemulihan bergerak dengan kecepatan yang sama di seluruh wilayah terdampak.

