PIDIE — Pemulihan sawah rusak berat pascabencana hidrometeorologi di Aceh mulai memasuki tahap yang dapat diuji dengan angka. Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi menjadikan Kabupaten Pidie sebagai proyek percontohan, dengan 95 hektare sawah rusak berat ditargetkan pulih 100 persen dalam 30 hari.

Pidie dipilih bukan karena memiliki kerusakan terbesar, melainkan justru karena luas dampaknya relatif lebih kecil. Pemerintah ingin menggunakan penanganan di daerah ini sebagai model sebelum pola yang sama dibawa ke kabupaten dengan skala kerusakan jauh lebih luas.

12 hektare dalam sekitar 9–10 hari

Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR Safrizal ZA menyatakan alat berat telah dikerahkan untuk merehabilitasi sawah rusak berat. Saat peninjauan lapangan, pekerjaan telah berjalan sekitar sembilan hari. Satgas Kementerian Pertanian di Aceh menyebut sekitar 12 hektare berhasil ditangani dalam kurun kurang lebih 9–10 hari.

Penanganan mencakup pembukaan kembali lahan, pembuangan material lumpur dan timbunan, serta penataan parit bersama petani agar sawah dapat kembali diolah dan ditanami. Di Desa Blang Cut, Kembang Tanjong, lumpur yang menutup lahan sebelumnya disebut mencapai sekitar 81 sentimeter.

Ujian sebenarnya berada di Aceh Utara

Jika target Pidie tercapai, pemerintah berencana menjadikan pola tersebut sebagai model yang diajukan kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk diterapkan di daerah lain. Di sinilah skala persoalan berubah drastis.

Aceh Utara disebut memiliki sekitar 4.800 hektare sawah rusak yang membutuhkan rehabilitasi. Angka itu lebih dari 50 kali luas target percontohan 95 hektare di Pidie. Hingga perkembangan terakhir, kebutuhan anggaran untuk penanganan Aceh Utara masih dalam tahap pengkajian.

Perbandingan tersebut penting karena keberhasilan teknis pada skala 95 hektare belum otomatis berarti model yang sama dapat diterapkan dengan kecepatan, biaya dan kapasitas yang serupa pada ribuan hektare. Ketersediaan alat berat, anggaran, kondisi kerusakan, jaringan irigasi, akses ke lokasi dan kesiapan petani dapat berbeda antardaerah.

Pemulihan bukan selesai ketika lumpur dibersihkan

Bagi petani, ukuran keberhasilan pemulihan tidak berhenti pada jumlah hektare yang telah dibersihkan. Pertanyaan akhirnya adalah kapan sawah dapat kembali ditanami, apakah jaringan air berfungsi, berapa musim tanam yang hilang, dan kapan pendapatan rumah tangga petani kembali normal.

Karena itu, target 30 hari di Pidie perlu dibaca sebagai tahap awal pengujian model. Setelah pekerjaan fisik selesai, indikator berikutnya adalah berapa hektare yang benar-benar kembali ditanami dan berproduksi.

Yang perlu dipantau

Atlas Aceh Newsroom akan memantau apakah target 95 hektare di Pidie selesai dalam 30 hari, berapa biaya aktual rehabilitasi per hektare, kapan lahan kembali ditanami, serta hasil kajian kebutuhan anggaran untuk sekitar 4.800 hektare di Aceh Utara.

Jika model Pidie benar-benar akan diperluas, angka-angka tersebut akan menentukan apakah proyek percontohan ini menjadi pola pemulihan yang dapat direplikasi atau hanya keberhasilan pada skala yang relatif kecil. Mapping Aceh Beyond The Headlines — mengukur pemulihan bukan hanya dari pekerjaan yang dimulai, tetapi dari kemampuan masyarakat kembali hidup dan berproduksi.