ACEH JAYA — Tambahan Transfer ke Daerah untuk pemulihan pascabencana mulai diterjemahkan menjadi pekerjaan fisik di Aceh Jaya. Dinas PUPR setempat menggunakan sekitar Rp5,5 miliar untuk penanganan dan mitigasi bencana.
Dana tersebut digunakan antara lain untuk pembangunan jalan dan normalisasi saluran. Penanganan disebut telah berjalan sejak Juli dan ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Dari transfer anggaran menuju aset yang bisa diuji
Perkembangan Aceh Jaya penting karena perdebatan pemulihan Aceh dalam beberapa pekan terakhir banyak berpusat pada rendahnya realisasi TKD. Ketika anggaran mulai dibelanjakan, pertanyaan publik bergeser: proyek apa yang dibiayai, berada di lokasi mana, berapa progresnya, dan risiko bencana apa yang hendak dikurangi.
Pembangunan jalan dapat memulihkan konektivitas, sementara normalisasi saluran dapat berfungsi sebagai mitigasi jika diarahkan pada titik yang memiliki risiko genangan atau gangguan aliran. Namun manfaat tersebut baru dapat dinilai secara utuh ketika rincian paket, lokasi, progres fisik dan hasil pekerjaannya tersedia.
Recovery tracker perlu turun ke kabupaten
Kasus Aceh Jaya memberi satu unit pengukuran baru bagi Recovery Tracker Atlas: tidak hanya melihat berapa TKD yang telah ditransfer atau diserap, tetapi menelusuri apa yang dibangun oleh setiap kabupaten/kota dan apakah pekerjaan tersebut benar-benar mengurangi kerentanan masyarakat.
Target Desember memberi batas waktu yang jelas untuk diuji. Hingga saat itu, informasi yang perlu dibuka adalah daftar kegiatan, lokasi, nilai setiap paket, progres keuangan dan fisik, serta kondisi sebelum dan sesudah intervensi.

