Aceh kembali membawa aset strategisnya ke meja investor regional. Dalam IMT-GT Aceh Business Forum Series 2026 di Medan, Pemerintah Aceh menawarkan Sabang sebagai gerbang maritim, KEK Arun Lhokseumawe sebagai kawasan industri dan energi, serta sejumlah destinasi pariwisata kepada calon investor dan mitra dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Forum tersebut dirancang mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor dan mitra strategis. Sekitar 250 peserta hadir, termasuk delegasi pemerintah, pelaku usaha, korporasi, lembaga keuangan, perwakilan diplomatik dan pemilik proyek.

Apa yang sebenarnya ditawarkan Aceh?

BPKS mempresentasikan Sabang sebagai strategic maritime gateway di jalur Andaman–Malaka dengan peluang pada logistik, bunkering, yacht, cruise, perdagangan dan pariwisata. Sementara KEK Arun Lhokseumawe, dengan luas sekitar 2.622 hektare, menawarkan peluang industri berbasis gas, petrokimia, hilirisasi kelapa sawit dan logistik.

Sektor pariwisata juga dibawa ke forum, mencakup Sabang dan Pulau Weh, Banda Aceh, kawasan Gayo serta destinasi pesisir barat Aceh. Posisi Aceh menjadi menarik karena berada dalam dua koridor ekonomi IMT-GT sekaligus: koridor Banda Aceh–Medan–Pekanbaru–Palembang dan koridor Ranong–Phuket–Aceh.

Promosi bukan realisasi investasi

Di sinilah pembacaan terhadap forum investasi perlu dibedakan. Presentasi proyek menunjukkan apa yang ingin ditawarkan Aceh, tetapi belum dengan sendirinya berarti investasi telah masuk. Ukuran yang lebih penting justru muncul setelah forum selesai: apakah ada investor yang melakukan kunjungan proyek, memulai studi kelayakan, membentuk kemitraan, menyampaikan komitmen modal, hingga akhirnya merealisasikan investasi.

Pemerintah Aceh sendiri menekankan bahwa kerja sama regional tidak cukup berhenti pada pertemuan antarpemerintah. Forum ini diarahkan menuju hubungan bisnis dan tindak lanjut konkret, termasuk kunjungan proyek, pertemuan bisnis, pembahasan kelayakan dan fasilitasi investasi.

Aceh dan Sumatera Utara mulai dibaca sebagai satu koridor

Ada dimensi lain yang penting. Forum IMT-GT juga mendorong Aceh dan Sumatera Utara dilihat sebagai satu koridor ekonomi. Sumatera Utara memiliki aset industri, pelabuhan dan konektivitas seperti KEK Sei Mangkei, Kuala Tanjung, Kawasan Industri Medan, Belawan dan Kualanamu. Aceh membawa energi, sumber daya, maritim, pariwisata, pertanian, perikanan dan logistik.

Jika keterhubungan ini benar-benar dibangun, pertanyaannya bukan semata apakah Aceh mampu menarik investor sendiri, tetapi apakah produksi dan aset Aceh dapat masuk ke rantai nilai regional tanpa membuat nilai tambah justru berhenti di luar Aceh.

Yang perlu dipantau setelah forum

Karena itu, keberhasilan IMT-GT Aceh Business Forum tidak seharusnya dinilai dari jumlah peserta atau banyaknya proyek yang dipresentasikan. Indikator yang lebih relevan adalah berapa proyek yang mendapat tindak lanjut, siapa investor yang masuk ke tahap due diligence, berapa nilai komitmen yang terbentuk, dan berapa yang akhirnya tercatat sebagai realisasi investasi.

Aceh telah lama memiliki narasi tentang posisi strategis, sumber daya alam dan kedekatan geografis dengan pasar regional. Forum di Medan kembali membuka pintu itu. Pekerjaan berikutnya adalah membuktikan bahwa posisi strategis dapat berubah menjadi transaksi ekonomi, lapangan kerja dan nilai tambah yang tinggal di Aceh.

UPDATE 10 SEPTEMBER: Dari promosi proyek ke rencana aksi Sumatera

Hasil Rapat Koordinasi Gubernur se-Sumatera dalam rangkaian IMT-GT memperjelas bahwa promosi investasi Aceh tidak berdiri sendiri. Forum merekomendasikan kesepakatan antarprovinsi, pembentukan kelembagaan dan rencana aksi bersama, percepatan implementasi lima prioritas, serta penguatan dukungan pemerintah pusat dan mitra strategis.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menempatkan konektivitas dan logistik sebagai salah satu prasyarat utama. Ia juga mendorong hilirisasi komoditas seperti kopi dan nilam agar Aceh tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah, serta memperkuat Sabang melalui konektivitas laut dan udara sebagai simpul perdagangan, logistik, dan pariwisata.

Bagi Atlas, perkembangan ini menggeser indikator keberhasilan satu tahap lebih jauh: bukan hanya apakah investor tertarik pada Sabang atau KEK Arun, tetapi apakah kesepakatan antardaerah menghasilkan proyek konektivitas, rantai pasok, skema hilirisasi, dan tindak lanjut investasi yang memiliki jadwal, penanggung jawab, serta ukuran realisasi yang dapat dipantau publik.