ACEH TIMUR — Pemulihan pascabencana di Aceh Timur mulai bergerak dari memenuhi kebutuhan dasar menuju memulihkan penghidupan keluarga. Pemerintah kabupaten menyiapkan jaminan hidup, bantuan isi hunian, stimulus ekonomi serta santunan bagi korban meninggal dan luka-luka.
Pada Tahap I Gelombang I, jaminan hidup dialokasikan kepada 7.659 keluarga penerima manfaat dengan anggaran Rp38,99 miliar. Sebanyak 7.592 KPM disebut telah menerima bantuan dengan realisasi Rp38,73 miliar. Skemanya Rp15 ribu per jiwa per hari selama tiga bulan.
Rp5 juta untuk memulai kembali usaha
Tahap yang lebih menentukan berada pada stimulus ekonomi. Pemerintah mengalokasikan Rp38,28 miliar kepada 7.656 KPM, masing-masing Rp5 juta per kepala keluarga untuk mendukung usaha mandiri, termasuk pertanian dan kelautan.
Sebanyak 7.618 KPM dilaporkan telah menerima stimulus tersebut dengan realisasi Rp38,09 miliar. Pemerintah berharap bantuan menjadi modal agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi setelah terdampak bencana.
Ukuran berikutnya: bukan penyaluran, tetapi pemulihan pendapatan
Tingkat penyaluran yang tinggi belum otomatis menunjukkan pemulihan ekonomi. Untuk mengetahui apakah stimulus bekerja, publik membutuhkan indikator setelah bantuan diterima: berapa keluarga yang kembali membuka usaha, sektor apa yang pulih, berapa usaha yang bertahan setelah beberapa bulan, dan bagaimana perubahan pendapatan rumah tangga.
Di sinilah pemulihan memasuki fase yang lebih sulit. Bantuan darurat dapat dihitung dari jumlah penerima dan rupiah yang tersalur. Pemulihan penghidupan harus dinilai dari kemampuan keluarga untuk kembali menghasilkan pendapatan tanpa terus bergantung pada bantuan.
Bagi Atlas, Aceh Timur dapat menjadi kasus uji penting: apakah desain rehab-rekon mampu bergerak dari menjaga keluarga tetap bertahan menuju membuat mereka kembali mandiri secara ekonomi.

