Banjir kembali melanda sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang setelah hujan lebat pada 11–12 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan, berdasarkan pendataan awal yang dikutip detikSumut pada Senin pagi, genangan terjadi di 14 desa pada enam kecamatan. Sejumlah warga meninggalkan rumah menuju tempat lebih aman, sementara debit air di beberapa lokasi dilaporkan masih meningkat.
Kepala BPBA Bahron Bakti menyebut pendataan warga terdampak masih berlangsung. Laporan awal yang disampaikannya mencatat pengungsian 150 kepala keluarga (KK) dari Bandar Khalifah, lima KK dari Rongoh, 110 KK dari Alur Selebu, dan 20 KK dari Sumber Makmur. Angka tersebut merupakan potret awal dari lokasi yang disebut, bukan jumlah final pengungsi di seluruh Aceh Tamiang.
Data lapangan berkembang, tetapi belum seragam
Keterangan terbaru Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang Iman Suhery yang diberitakan ANTARA pada Senin, 12 Oktober pukul 14.41 WIB, mencatat 18 desa di sembilan kecamatan terendam. Banjir dipicu luapan sungai dan tanggul jebol di sejumlah lokasi. Akses menuju Simpang Kiri, Tenggulun, dilaporkan tidak dapat dilalui kendaraan, sementara tanggul di Marlempang, Bendahara, dilaporkan jebol sekitar 30 meter. Ini adalah pembaruan sumber BPBD, bukan angka final seluruh penduduk terdampak.
Laporan The Aceh Post pada 16.19 WIB menyebut 19 desa pada sembilan kecamatan dan sekitar 350 KK mengungsi, merujuk Pusdalops BPBA pukul 12.50 WIB. Karena angka ini berbeda dari keterangan BPBD yang dimuat ANTARA, Atlas belum menetapkan salah satunya sebagai rekap tunggal final. Angka terdampak dan angka mengungsi juga harus dibedakan; daftar desa, jam pendataan, dan definisi kategori masih perlu dicocokkan.
Sumber lain mengutip rekap Posko Terpadu Aceh Tamiang dengan cakupan 12 kecamatan dan angka penduduk terdampak yang jauh lebih besar. Namun definisi 'terdampak', wilayah penghitungan, dan angka pengungsi pada berbagai laporan belum dapat direkonsiliasi dari dokumen primer yang tersedia. Karena itu Atlas tidak menjumlahkan atau memperlakukan seluruh angka lintas laporan sebagai satu rekap resmi final. Pembaruan posko dengan jam pencatatan, desa, KK, jiwa, serta kategori terdampak dan mengungsi diperlukan.
Hujan belum selesai, respons harus berbasis kebutuhan
Pada Senin pukul 15.10 WIB, ANTARA memuat keterangan Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Nasyithah Az-zahra Lubis bahwa hampir seluruh Aceh berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat dalam dua hari berikutnya. Aceh Tamiang termasuk wilayah yang disebut berpotensi hujan pada 12 Oktober. Prakiraan cuaca adalah potensi, bukan bukti bahwa setiap kecamatan pasti kembali banjir.
Prioritas penanganan adalah keselamatan warga di dekat aliran sungai dan tanggul, akses evakuasi yang aman, kebutuhan tempat pengungsian, air bersih, makanan, obat-obatan, serta akses jalan dan layanan dasar. Status operasional tempat pengungsian, jumlah warga rentan, titik jalan terputus, dan distribusi bantuan per desa masih membutuhkan laporan resmi yang terperinci.
Ujian tata kelola setelah banjir berulang
Aceh Tamiang juga sedang menjalankan pemulihan pascabencana sebelumnya, termasuk agenda pembangunan hunian tetap. Namun banjir Oktober ini tidak boleh langsung dinyatakan merusak proyek huntap atau membuktikan kegagalan proyek tertentu tanpa pemeriksaan lapangan. Yang harus dipastikan ialah apakah lokasi pemulihan, akses permukiman, drainase, tanggul, dan rencana evakuasi sudah dinilai terhadap risiko banjir yang berulang.
Perbedaan angka awal antarlembaga tidak otomatis berarti ada manipulasi; cakupan, waktu, dan metode pendataan bisa berbeda. Meski begitu, satu laporan situasi terpadu penting agar bantuan dan keputusan publik dapat diuji. Atlas akan memperbarui angka hanya setelah tersedia rilis resmi yang menjelaskan definisi dan waktu pencatatan.
Sumber: Kepala BPBA Bahron Bakti dalam detikSumut 12 Oktober pukul 11.03 WIB; Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang Iman Suhery dalam ANTARA 12 Oktober pukul 14.41 WIB (https://aceh.antaranews.com/berita/412005/banjir-rendam-sembilan-kecamatan-di-aceh-tamiang); BMKG SIM dalam ANTARA 12 Oktober pukul 15.10 WIB. Laporan The Aceh Post pukul 16.19 WIB menyebut 19 desa di sembilan kecamatan berdasarkan rujukan BPBA pukul 12.50 WIB, sehingga belum dapat disamakan sebagai satu rekap final.

