Banjir kembali melanda Aceh Selatan pada Minggu, 25 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan genangan di empat gampong pada dua kecamatan, disertai longsor di dua titik jalan penghubung. Pertanyaannya kini bukan hanya kapan air surut, tetapi seberapa siap perlindungan warga dan akses transportasi saat hujan berlanjut.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan, Mudatsir, menyebut kawasan yang terdampak meliputi Gunong Pulo dan Krueng Batee di Kecamatan Kluet Utara, serta Mersak dan Malaka di Kecamatan Kluet Tengah. Air di sejumlah tempat dilaporkan mencapai sekitar tinggi paha orang dewasa, bukan ukuran seragam untuk semua lokasi.

Menurut BPBD, hujan lebat sejak Sabtu, 24 Oktober, membuat aliran sungai meluap dan menggenangi permukiman. Hingga keterangan yang diberitakan ANTARA pada Minggu pukul 18.18 WIB, genangan masih terjadi di beberapa lokasi dan hujan masih berlangsung. Informasi ini menggambarkan kondisi pada waktu pelaporan, bukan pembaruan real-time sesudahnya.

Jalan tetap dilalui, ancaman longsor harus ditangani

Banjir turut menggenangi ruas jalan nasional Tapaktuan–Subulussalam. BPBD menyebut lalu lintas ketika itu tetap berjalan. Secara terpisah, longsor terjadi di dua titik jalur Gunung Manggamat menuju Kotafajar di Kecamatan Kluet Selatan. Tim BPBD mengerahkan dua armada pemadam kebakaran untuk membantu pembersihan material lumpur pada jalur tersebut.

Kondisi jalan yang masih bisa dilalui bukan berarti risiko perjalanan telah hilang. Penanganan perlu memastikan informasi lokasi genangan, titik rawan longsor, perkembangan pembersihan, dan kemungkinan perubahan akses disampaikan secara berkala kepada warga serta pengguna jalan.

Peringatan cuaca dan kebutuhan data lapangan

BMKG dalam prakiraan nasional yang diperbarui 22 Oktober menempatkan Aceh pada kategori siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat untuk periode 23–25 Oktober. Untuk 26–29 Oktober, BMKG masih mencantumkan peluang hujan sedang serta potensi angin kencang di Aceh. Prakiraan wilayah luas ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan besarnya curah hujan di setiap gampong terdampak.

BPBD menyatakan asesmen masih berlangsung dan mengimbau warga berpindah ke tempat aman apabila ada banjir susulan. Pada saat penutupan laporan ini, jumlah keluarga terdampak, penghuni pengungsian, kerusakan rumah, dan kebutuhan logistik per gampong belum ditemukan dalam keterangan yang terverifikasi. Ketiadaan angka itu tidak berarti tidak ada warga yang memerlukan bantuan.

Ada empat ukuran respons yang patut dipublikasikan pemerintah daerah: cakupan asesmen dan penduduk terdampak, kesiapan evakuasi terutama bagi kelompok rentan, status akses jalan beserta titik longsor, serta jadwal pembaruan informasi dari BPBD. Angka dan tindakan yang terukur akan lebih membantu warga daripada sekadar pernyataan kesiapsiagaan.

Banjir di Kluet memperlihatkan bagaimana urusan sungai, permukiman, dan konektivitas dapat bertemu dalam satu kejadian. Setelah fase darurat, evaluasi semestinya melacak titik luapan dan kebutuhan penanganan jangka panjang. Namun, belum ada bukti dalam laporan ini untuk menyimpulkan kegagalan proyek tertentu atau penyebab struktural yang spesifik.