Pemulihan sektor pertanian pascabencana di Bener Meriah mulai bergerak ke tahap yang lebih dekat dengan petani. BRMP Aceh melaporkan tim turun untuk mengidentifikasi kondisi sawah, hortikultura dan perkebunan yang terdampak banjir serta longsor akhir 2025, sekaligus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan kelompok tani.

Pemerintah daerah menyatakan sebagian besar distribusi bantuan pertanian sedang berjalan dan mulai diterima petani terdampak. Namun, tahap ini baru menjawab satu bagian dari recovery: bantuan sudah bergerak. Pertanyaan berikutnya adalah apakah lahan produksi benar-benar kembali berfungsi.

Recovery pertanian bukan sekadar distribusi bantuan

Bagi rumah tangga petani, pemulihan tidak selesai ketika benih, sarana produksi atau dukungan teknis disalurkan. Recovery baru memiliki dampak ketika sawah, kebun dan lahan hortikultura dapat kembali ditanami, menghasilkan panen, dan mengembalikan arus pendapatan keluarga.

Karena itu, indikator yang perlu dilihat bukan hanya jumlah bantuan, tetapi luas lahan rusak, luas yang telah direhabilitasi, jumlah petani penerima, jenis komoditas yang dipulihkan, jadwal tanam kembali, serta hambatan seperti irigasi, akses jalan produksi dan kondisi tanah.

Dari kunjungan lapangan menuju ukuran yang bisa diuji

Kunjungan dan identifikasi lapangan penting untuk memastikan kebutuhan petani sesuai dengan kondisi aktual. Tetapi publik membutuhkan ukuran yang lebih konkret untuk mengetahui seberapa jauh pemulihan berjalan: berapa hektare lahan yang masih tidak produktif, berapa yang sudah pulih, dan kapan siklus produksi normal dapat dimulai kembali.

Bener Meriah bergantung pada aktivitas pertanian dan perkebunan sebagai sumber penghidupan banyak rumah tangga. Gangguan pada produksi berarti bukan hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga tekanan terhadap pendapatan, tenaga kerja lokal, perdagangan hasil tani dan kemampuan keluarga membiayai kebutuhan sehari-hari.

Yang harus dipantau berikutnya

Perkembangan selanjutnya perlu menghubungkan data bantuan dengan hasil di lapangan. Jika distribusi telah berjalan, maka ukuran keberhasilan berikutnya adalah kecepatan pemulihan produktivitas, bukan hanya kecepatan penyaluran.

Bagi Atlas Recovery Tracker, pemulihan pertanian menjadi lapisan penting setelah rumah, jalan, jembatan dan infrastruktur dasar. Pertanyaan akhirnya sederhana: kapan petani yang terdampak bencana bisa kembali menghasilkan dari lahannya sendiri?