Bendungan irigasi di Gampong Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, dilaporkan mulai beroperasi setelah pembangunannya rampung pada September 2026. Jaringan ini disebut mengairi lebih dari 40 hektare sawah di Lamtimpeung dan sejumlah gampong sekitar, termasuk Lampuja, Cucum, Rabung, dan Limpok.
Bagi petani, perubahan paling penting bukan sekadar selesainya konstruksi, melainkan kepastian air pada musim tanam. Petani setempat menyebut keterbatasan pasokan sebelumnya membuat sebagian lahan hanya dapat dipanen sekali setahun. Dengan bendungan beroperasi, mereka berharap memiliki peluang untuk meningkatkan intensitas tanam menjadi dua kali setahun dan memanfaatkan sebagian lahan untuk palawija.
Namun, operasi bendungan belum otomatis menghasilkan kenaikan produksi. Dampaknya akan bergantung pada kestabilan debit air, kondisi jaringan distribusi hingga petak sawah, pola tanam yang disepakati, pemeliharaan, serta kemampuan petani memperoleh sarana produksi dan akses pasar.
Pemerintah daerah perlu membuka informasi mengenai nilai dan sumber pembiayaan pembangunan, kapasitas layanan, daftar lahan penerima manfaat, jadwal pembagian air, serta mekanisme pengelolaan dan pemeliharaan. Data sebelum dan sesudah operasi juga penting untuk menguji apakah target panen dua kali setahun benar-benar tercapai.
Bagi Aceh Besar, proyek ini dapat menjadi contoh bahwa manfaat infrastruktur irigasi harus diukur dari perubahan produktivitas dan pendapatan petani, bukan hanya dari status konstruksi yang selesai. Atlas akan memantau realisasi musim tanam berikutnya, cakupan layanan aktual, dan apakah ada dukungan lanjutan untuk petani di kawasan tersebut.

