Ekonomi Aceh tumbuh 4,86 persen pada triwulan II-2026. Di saat yang sama, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 meningkat menjadi 12,34 persen dari 12,22 persen pada September 2025. Dua angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.

BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 713,78 ribu orang, bertambah sekitar 10,4 ribu orang dibandingkan September 2025. Kenaikan terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Garis kemiskinan juga naik menjadi Rp742.464 per kapita per bulan.

Pada sisi produksi, perdagangan besar dan eceran menjadi salah satu penopang utama ekonomi Aceh, sementara konstruksi mencatat pertumbuhan lapangan usaha tertinggi. Namun struktur pertumbuhan tersebut belum dengan sendirinya menjawab apakah pendapatan rumah tangga berpendapatan rendah ikut meningkat.

BPS juga mencatat tingkat pengangguran terbuka Aceh pada Mei 2026 sebesar 5,89 persen, dengan sekitar 157,48 ribu orang menganggur. Ini memperlihatkan bahwa kualitas pertumbuhan perlu dibaca bersama kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan dan meningkatkan daya beli.

Bagi Aceh, pertanyaan kebijakannya bukan hanya seberapa tinggi ekonomi tumbuh, melainkan sektor mana yang menciptakan pendapatan bagi rumah tangga, wilayah mana yang tertinggal, dan apakah belanja publik mampu mengubah pertumbuhan menjadi penurunan kemiskinan yang berkelanjutan.