BANDA ACEH — Berapa sebenarnya jumlah nasabah Bank Syariah Indonesia Regional Aceh hingga Juli 2026? Pertanyaan sederhana itu menghasilkan dua jawaban berbeda dari pemberitaan yang terbit hampir bersamaan pada 4 September: 4,3 juta dan 5,3 juta nasabah.

Perbedaannya bukan kecil. Selisih kedua angka mencapai satu juta nasabah. Yang membuatnya lebih menarik, data pendukung dalam laporan-laporan tersebut hampir seluruhnya sama.

Dua Kelompok Angka

ANTARA Aceh melaporkan jumlah nasabah BSI Regional Aceh hingga Juli 2026 mencapai 4,3 juta. Angka yang sama juga muncul dalam pemberitaan Berita Rakyat Aceh.

Namun sejumlah media lain, termasuk The Aceh Post, PortalNusa, Dialeksis, LamanNews, Anterokini dan AcehUpdate, menuliskan jumlah nasabah mencapai 5,3 juta.

Menariknya, kedua versi sama-sama mengaitkan data tersebut dengan pertumbuhan sekitar 31,76 persen secara tahunan dan pernyataan Regional CEO BSI Aceh Imsak Ramadhan.

Data Lain Justru Konsisten

Di luar angka jumlah nasabah, rangkaian data yang dipublikasikan relatif konsisten: lebih dari 138 outlet, 20.822 BSI Agen, lebih dari 56.567 merchant QRIS, Dana Pihak Ketiga sekitar Rp22,3 triliun dan penyaluran pembiayaan sekitar Rp26,1 triliun.

Laporan-laporan itu juga sama-sama menyebut lebih dari 422 ribu nasabah Tabungan Haji serta pengelolaan 106 kilogram emas di Regional Aceh. Kesamaan detail tersebut menunjukkan perbedaan 4,3 dan 5,3 juta tidak berasal dari dua laporan kinerja yang sepenuhnya berbeda.

Mengapa Atlas Tidak Memilih Salah Satunya

Hingga penelusuran Atlas Aceh Newsroom pada 5 September 2026, belum ditemukan rilis resmi BSI yang dapat diakses publik dan secara tegas mengunci apakah angka yang benar adalah 4,3 juta atau 5,3 juta nasabah.

Karena sumber sekunder yang membawa angka berbeda sama-sama mengutip data BSI, memilih salah satunya tanpa dokumen primer atau klarifikasi langsung justru berisiko mengubah ketidakpastian menjadi fakta.

Atlas karena itu menempatkan angka jumlah nasabah dalam status belum terkunci, sementara data kinerja lain yang konsisten dapat dicatat sebagai informasi yang dilaporkan BSI Regional Aceh.

Satu Juta Bukan Selisih Sepele

Perbedaan satu juta nasabah penting karena angka tersebut digunakan untuk menggambarkan penetrasi dan pertumbuhan perbankan syariah di Aceh. Ketika data menjadi dasar untuk membaca perilaku ekonomi masyarakat, presisi bukan persoalan kosmetik.

Kasus ini juga menunjukkan mengapa angka yang beredar serentak di banyak media tetap perlu dilacak kembali ke sumber primer. Banyaknya publikasi tidak otomatis membuat sebuah angka menjadi lebih benar apabila semuanya berasal dari materi sumber yang sama.

Yang Perlu Diklarifikasi BSI

Klarifikasi paling sederhana adalah memastikan angka jumlah nasabah BSI Regional Aceh per Juli 2026, basis perhitungannya, serta angka pembanding tahun sebelumnya yang menghasilkan pertumbuhan 31,76 persen.

Sampai klarifikasi atau dokumen primer tersedia, Atlas Aceh Newsroom tidak menetapkan 4,3 juta maupun 5,3 juta sebagai angka final. Yang dapat dipastikan saat ini adalah terdapat ketidakkonsistenan satu juta nasabah dalam publikasi data yang beredar, dan ketidakkonsistenan itu layak diperbaiki sebelum digunakan sebagai rujukan publik.