Pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Pidie Jaya mulai bergerak dari rapat koordinasi menuju pekerjaan fisik di permukiman. Tahap pemulihan yang sedang berjalan mencakup 11 gampong di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, dari total 18 gampong yang dilaporkan terdampak cukup parah akibat bencana November 2025.

Pekerjaan yang ditangani antara lain pembangunan drainase, rekonstruksi jalan, pembersihan lumpur rumah warga, penataan permukiman dan normalisasi sungai. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk memetakan capaian, program berjalan serta kebutuhan yang belum tertangani.

Dari proyek menuju fungsi

Jumlah proyek bukan satu-satunya ukuran recovery. Drainase baru berarti ketika mampu mengalirkan air; jalan yang direkonstruksi berarti ketika konektivitas warga pulih; pembersihan lumpur berarti ketika rumah kembali layak dihuni; dan normalisasi sungai berarti ketika risiko genangan dapat dikurangi.

Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi meminta organisasi perangkat daerah menyampaikan data terbaru yang terbuka dan terverifikasi mengenai capaian, program yang sedang berjalan dan persoalan yang masih membutuhkan dukungan. Prinsip ini penting karena pemulihan melibatkan banyak institusi dan sumber pembiayaan.

Tujuh gampong lainnya menjadi pertanyaan

Jika tahap yang sedang berjalan mencakup 11 dari 18 gampong terdampak cukup parah di dua kecamatan tersebut, maka publik juga perlu mengetahui status tujuh gampong lainnya: kebutuhan apa yang belum ditangani, siapa penanggung jawabnya, bagaimana sumber anggarannya dan kapan pekerjaan dijadwalkan.

Pertanyaan itu tidak berarti tujuh gampong tersebut sama sekali belum menerima penanganan. Data yang tersedia hanya menunjukkan cakupan tahap pekerjaan yang sedang diberitakan. Karena itu, status masing-masing wilayah masih perlu diverifikasi secara terpisah.

Recovery harus terlihat dari kehidupan warga

Bagi Atlas, pemulihan tidak selesai ketika proyek dinyatakan berjalan. Recovery perlu dipetakan sampai ke tingkat masyarakat: berapa rumah kembali layak, berapa akses jalan pulih, bagaimana lahan produktif kembali digunakan, apakah sekolah dan fasilitas dasar berfungsi, serta apakah risiko bencana berikutnya berkurang. Dari situlah keberhasilan rekonstruksi dapat diuji.