BANDA ACEH — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menyatakan progres penanganan tanggap darurat bencana pada infrastruktur sumber daya air di Aceh telah mencapai 92,06 persen. Pekerjaan darurat itu mencakup normalisasi sungai dan muara, perkuatan tebing atau tanggul, pembersihan jaringan irigasi, serta penyediaan air bersih di sejumlah wilayah terdampak.

Angka 92 persen tidak merata di semua wilayah

BWS merinci progres di Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Tengah sebesar 87,79 persen. Di wilayah ini, perkuatan tebing dan tanggul mencapai 94,68 persen, normalisasi sungai dan pengerukan muara 78,03 persen, serta penanganan daerah irigasi 85,84 persen.

Untuk Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, progres fisik disebut mencapai 91,04 persen. Perkuatan tebing dan tanggul berada pada 92,55 persen, normalisasi sungai dan saluran irigasi 84,74 persen, sementara 24 titik sumur bor untuk penyediaan air bersih telah selesai. BWS menyatakan penanganan darurat di Aceh Barat, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara sudah mencapai 100 persen.

Darurat selesai bukan berarti pemulihan selesai

Pembedaan tahap menjadi penting. Progres 92,06 persen adalah ukuran pekerjaan tanggap darurat untuk mengembalikan fungsi dasar sungai, muara, irigasi, dan perlindungan tebing setelah bencana. Setelah fase ini selesai, BWS masih merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih permanen dengan masa pelaksanaan hingga 2028.

Rencana tahap berikutnya mencakup penanganan dari hulu hingga hilir daerah aliran sungai, pembangunan sabo dam, perkuatan tebing, serta perbaikan dan penanganan muara. Artinya, indikator keberhasilan tidak cukup berhenti pada persentase pekerjaan darurat, tetapi harus bergerak ke pertanyaan apakah infrastruktur yang dibangun mampu menurunkan risiko banjir, longsor, sedimentasi, dan kerusakan berulang.

Yang perlu dipantau berikutnya

Publik membutuhkan peta yang lebih rinci mengenai titik pekerjaan yang belum selesai, nilai dan sumber anggaran rehab-rekon, jadwal per wilayah, serta indikator pengurangan risiko setelah proyek permanen dibangun. Tanpa itu, angka agregat 92 persen mudah dibaca sebagai pemulihan hampir selesai, padahal pekerjaan jangka panjang baru memasuki tahap berikutnya.

Atlas akan memantau transisi dari pekerjaan darurat menuju rehab-rekon hingga 2028, terutama pada wilayah yang progres normalisasi sungai, pengerukan muara, dan irigasinya masih tertinggal dibanding komponen lain.