Ketua DPRA Zulfadhli menyebut realisasi APBA 2026 per September baru mencapai 57,9 persen dari pagu sekitar Rp11,06 triliun. Ia meminta seluruh SKPA mempercepat kegiatan yang masih tertahan pada tahap tender, kontrak, maupun pelaksanaan fisik.
Angka tersebut menempatkan Aceh pada persoalan klasik menjelang akhir tahun anggaran: semakin sempit waktu yang tersedia untuk mengubah pagu menjadi pekerjaan, layanan, dan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat. Tetapi serapan tinggi pada akhir tahun juga bukan tujuan pada dirinya sendiri.
Bukan Sekadar Mengejar Persentase
Zulfadhli sendiri menekankan bahwa pengawasan DPRA tidak boleh berhenti pada realisasi keuangan. Kemajuan fisik di lapangan harus bergerak sejalan. Ini penting karena percepatan belanja dalam waktu pendek dapat menghasilkan dua gambaran yang berbeda: anggaran terserap lebih cepat, tetapi kualitas pekerjaan dan ketepatan manfaat belum tentu ikut membaik.
Atlas belum menemukan rincian publik yang cukup untuk menjelaskan SKPA mana yang paling lambat, berapa porsi belanja modal yang belum terealisasi, proyek apa yang masih tertahan di tender atau kontrak, dan seberapa jauh realisasi fisiknya. Tanpa data itu, angka 57,9 persen belum cukup untuk menunjuk satu penyebab atau satu instansi sebagai sumber masalah.
Empat Data yang Perlu Dibuka
Agar percepatan APBA dapat diawasi secara substantif, Pemerintah Aceh perlu membuka setidaknya realisasi keuangan per SKPA, realisasi fisik per program utama, daftar kegiatan yang masih tertahan pada pengadaan atau kontrak, serta proyeksi penyelesaian sampai akhir tahun. Dengan begitu publik dapat membedakan keterlambatan administratif, proyek yang memang belum jatuh tempo, dan kegiatan yang berisiko tidak selesai.
Bagi ekonomi Aceh, belanja pemerintah memang memiliki peran besar sebagai salah satu penggerak permintaan. Namun kualitas belanja menentukan apakah uang publik hanya berpindah dari kas pemerintah menjelang tutup buku atau benar-benar menghasilkan infrastruktur, layanan, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi yang bertahan setelah tahun anggaran selesai.
Karena itu, pertanyaan hingga Desember bukan hanya apakah realisasi APBA dapat melonjak dari 57,9 persen. Ukuran yang lebih penting adalah berapa pekerjaan selesai sesuai mutu, berapa program mencapai penerima manfaat, dan berapa anggaran yang akhirnya tidak dapat dieksekusi. Explain Before Judge: persentase serapan adalah alarm awal, bukan vonis akhir atas kinerja APBA.

