ACEH TENGGARA — Tujuh dari delapan Jembatan Gantung Perintis Garuda yang dibangun untuk memulihkan akses masyarakat pascabencana di Aceh Tenggara telah rampung 100 persen.
Dandim 0108/Aceh Tenggara Letkol Czi Arya Murdyantoro menyatakan pembangunan dilakukan melalui sinergi TNI, masyarakat dan pihak terkait. Jembatan tersebut menjadi bagian dari percepatan pemulihan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah pada November 2025.
Jembatan sebagai indikator pemulihan akses
Dalam pemulihan pascabencana, jembatan bukan sekadar proyek konstruksi. Ia menentukan apakah warga dapat kembali menjangkau sekolah, layanan kesehatan, pasar, lahan produksi dan pusat pemerintahan tanpa jalur memutar atau akses darurat.
Rampungnya tujuh jembatan karena itu memberi sinyal pemulihan konektivitas di titik-titik yang sebelumnya terganggu. Namun satu dari delapan jembatan masih menjadi pekerjaan tersisa, sehingga status pemulihan belum dapat dibaca sebagai selesai seluruhnya.
Yang perlu diukur setelah konstruksi selesai
Tahap berikutnya adalah mengukur dampak. Informasi publik perlu menunjukkan desa yang kembali terhubung, jumlah warga yang menggunakan akses, waktu tempuh yang berhasil dipangkas, serta koneksi terhadap sekolah, pasar dan layanan dasar.
Dengan ukuran itu, keberhasilan recovery tidak berhenti pada tujuh bangunan yang selesai, tetapi pada mobilitas sosial dan ekonomi yang benar-benar kembali berjalan.

