Pemulihan sektor pertanian Aceh pascabencana hidrometeorologi memasuki fase penting. Pemerintah Aceh menyebut serapan anggaran penanganan pertanian dan perkebunan per 1 September 2026 berada di kisaran 53 persen.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menargetkan sekitar 40.852 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang dapat selesai ditangani pada tahun ini, termasuk kegiatan pendukungnya. Gubernur Aceh Muzakir Manaf meminta percepatan dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI, dan kelompok tani.

Angka 53 persen menjadi penting karena waktu pelaksanaan tahun anggaran semakin pendek. Semakin lambat realisasi, semakin besar risiko pekerjaan menumpuk di akhir tahun dan pemulihan lahan terlambat dirasakan petani.

Untuk sawah rusak berat, pemerintah menyebut beberapa strategi masih dipertimbangkan, mulai dari pemanfaatan lumpur, penanaman komoditas yang sesuai, pemanfaatan material untuk bahan bangunan, hingga rehabilitasi lahan agar kembali berfungsi sebagai sawah.

Dari perspektif petani, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa hektare masuk daftar penanganan. Yang menentukan adalah kapan lahan kembali produktif, apakah musim tanam dapat dikejar, dan apakah bantuan benar-benar sampai pada lokasi serta kelompok tani yang terdampak.